Selasa, 24 Juni 2014

Pribadi ku

Bismillah

Assalamu'alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh

Hem,,.... Saya adalah anak ke tiga dari lima bersaudara dari turunan Mandar (Ayah) dan Makassar (Ibu), tapi Ibu ku lebih ke pada keturunan Jawa, tepatnya Yogyakarta. Saya adalah salah seorang mahasiswi di salah satu Universitas Negeri di Makassar, Fakultas Ilmu Pendidikan, Prodi Pendidikan Guru Sekolah Dasar (PGSD). Sebagai salah satu pelajar yang tengah menuntut ilmu di perguruan tinggi. Sebagai anak yang memiliki tempat strategis dalam hubungan persaudaraan yakni di tengah, diantara 2 adik, adik laki-laki dan adik perempuan dan 2 kakak, kakak perempuan dan kakak laki-laki. Saya sangat merasa bersyukur karena dilahirkan di dalam keluargaku tercinta dan semua itu takkan bisa tergantikan meskipun dengan seluruh harta benda yang ada di dunia ini. Makanan favoritku adalah segala makanan yang halal dan baik yang dapat ku makan ketika aku lapar dan minuman kesukaanku adalah minuman halal dan baik yang dapat ku tenggak ketika aku dalam keadaan dahaga.

Selasa, 17 Januari 2012

The Journey

Bismillah


Sayup-sayup di keheningan malam ku dengar suara jangkrik itu saling bersahutan, seolah bernyanyi ingin menemani dan menghiburku untuk menghabiskan malam yang penuh kalut dengan temaramnya karena dipenuhi oleh banyaknya hal yang terlintas dipikiranku. Entah mengapa aku seperti sibuk dengan pikiran-pikiran itu, tapi harus ku akui bahwa memang semua itu harus ku pikirkan meski tak jarang batin ini bergulat dengan pikiranku sendiri dan terkadang aku menemui kebuntuan dalam mencari solusi dari permasalahan yang ku pikirkan. 

Malam semakin larut, namun pikir ini pun semakin tak karuan, mengapa begitu banyak masalah yang ku alami??? Mengapa hidupku ini tak hentinya disapa oleh kekecewaan dan kemalangan??? Mengapa hidupku yang harusnya dipenuhi dengan gemerlapnya masa muda yang ceria dan bahagia malah harus ku lalui dengan penuh kesesakan??? Ah, apakah ini yang sering dikatakan orang-orang bahwa hidup itu kejam?? itulah segelintir pertanyaan yang biasa terlintas olehku. Jiwa yang sedang kalut dalam masalah.

Haaah (mengehelah nafas). Ku baringkan badan ini sejenak diempuknya kasur tidurku. Lalu tiba-tiba, entah mengapa memori ini seolah mengulang suatu masa dan tak ayal, akupun terhentak dengan fenomena siang tadi yang ku saksikan langsung dengan sepasang mata indah yang begitu sempurnanya diciptakan oleh-Nya sebagai bukti rahman-Nya untuk rupaku yang indah sebagai hamba-Nya.

Sekali lagi ku terenyuh dalam benakku. Semakin ku ingat maka aku semakin merasa hina dan begitu egois....

Ketika itu aku hendak menuju tempat pelatihan (pelatihan pramuka) tepatnya pada hari minggu siang. Setelah ku selesaikan sholat dhuhurku lalu segera ku bersiap dengan seragam coklatku (pakaian pramuka). Ku salim tangan ibu dan seorang nenek dirumahku yang biasa ku panggil dengan sebutan “Mbah”, yah karena beliau berasal dari Yogjakarta dan sudah menjadi tradisi turun-temurun dalam keluargaku memanggilnya dengan sebutan itu.

Aku keluar rumah hendak mencari kendaraan roda tiga (becak) menuju ke depan lapangan untuk menunggu angkutan umum (pete-pete), namun tak ku dapati seorangpun pun yang si empunya menampakkan keinginan untuk mengantarku dengan becaknya bahkan untuk menengokku.

Yah, ku akui siang itu terik mataharinya begitu menyengat sampai ku rasakan peluh itu di keningku. Alhasil, ku ikhlaskan kaki ini untuk melangkah saja menyusuri jalan menuju lapangan tersebut. Di setiap langkah, ku perhatikan sisi dari setiap jalan yang ku lalui, ternyata mengasyikkan juga, pikirku. Ku lewati sebuah rumah pejabat yang kala itu sedang mengadakan pesta pernikahan, entah siapa tepatnya tapi ku tahu itu dari para tamu yang membawa undangan serta bentuk rumahnya yang dihias dengan megah layaknya adat pernikahan di kota ini.

Pantas saja, disamping matahari yang begitu terik ini tidak ada seorangpun dari para pengayuh kendaraan roda tiga itu yang mau mengantarku, karena jalan menuju tempatku mengambil angkot tertutup dan ditutup oleh para brimob dan para penegak hukum yang ku ketahui dan ku kenali dari pakaian yang mereka kenakan.

Ah, sedikit hati ini menggerutu kesal, mengapa disaat mereka sedang merayakan hari yang begitu membahagiakan buat mereka namun di sisi lain mereka juga menyusahkan orang lain yang tidak turut andil dalam bagian undangan itu. Tapi ku pikir itu biasa terjadi di negeri ini utamanya di kota besar seperti yang ku tinggali sekarang ini yaitu Makassar.

Kemudian ku lanjutkan perjalananku menyebrangi perempatan jalan, dan begitu sampainya aku di seberang jalan, aku memandangi begitu banyak rumah mewah yang begitu besar dan berderet saling bersampingan. Untuk beberapa langkahku ke depan, begitu indah dan menyegarkan pandangan mata.

Namun begitu ironi ketika aku melewati sebuah rumah yang terbesar di daerah itu namun pas disamping rumahnya, temboknya yang begitu besar dan kokoh dijadikan sebagai dinding sebuah rumah rakitan  yang terbuat dari sebuah terpal berwarna biru dan dos bekas yang jika ku katakan sangat tidak layak huni bahkan untuk kandang hewan sekalipun. Benar-benar pemandangan yang sangat menyedihkan. Padahal, dalam membangun rumah janganlah terlalu megah sehingga jadi bermegah-megahan. Ini sungguh tidak disukai Allah dan merupakan satu sifat dari orang-orang yang buruk di akhir zaman.

“Bermegah-megahan telah melalaikan kamu” [At Takaatsur:1]

Dan ketika Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam ditanya tentang tanda-tanda hari kiamat, Nabi menjawab: “Apabila para penggembala domba saling bermegah-megahan dengan gedung” [HR Muslim]

Kemudian dalam hadits yang lain Rasulullah bersabda bahwaa:

Belum akan datang kiamat sehingga manusia berlomba-lomba dengan bangunan-bangunan yang megah” (HR. Bukhari)

Membangun rumah yang terlampau tinggi sehingga akhirnya tetangga tidak mendapat sinar matahari atau angin.

Ketika ditanya tanda-tanda hari kiamat Nabi menjawab: 
"Seorang budak wanita melahirkan nyonya besarnya. Orang-orang tanpa sandal, setengah telanjang, melarat dan penggembala unta masing-masing berlomba membangun gedung-gedung bertingkat.” [HR Muslim]

Sungguh larangan keras telah diberikan dari Allah Ta’ala dan Rasul-Nya untuk kita sebagai umat-Nya yang hidup karena rahmat-Nya. Dan tak lama setelah ku amati dua hal bertentangan itu, ku alihkan pandanganku ke arah lain dan ku dapati sosok seorang pria yang tua renta dengan rambut putihnya dan kulitnya yang hitam terbakar teriknya matahari ditambah lagi siang itu teriknya matahari benar seolah membakar kulit. Begitu tersentak hati ini dan seolah bening air di pelupuk mata ini hendak jatuh menetes menatap kakek itu mendorong sepedanya yang penuh dengan barang rongsokan yang mungkin ia kumpulkan guna mendapatkan sesuap nasi.

Lantas hati inipun bertanya pada jiwa ini. Mengapa? Mengapa ia yang begitu tua masih jua bekerja sepayah itu??? Kemana sanak keluarga dan kerabatnya??? Beginikah potret kehidupan kita yang hidup di kota metropolitan??? Subhanallah, tak ku bayangkan jika aku berada diposisinya saat itu.

Sejenak aku terdiam dipinggir jalan menatap kakek itu, dan terus ku tatap hingga iapun berjalan dan akhirnya menghilang di depan mataku.

Perjalananku terus ku lanjutkan hingga akupun tiba di kampus Orange dan ku jumpai teman-temanku. Kami bercakap-cakap dan cengkrama kali itu antara kami ku rasa tidak menggembirakan hatiku yang sedang tersayat sembilu melihat ironisnya kehidupan di sekitarku yang justru baru aku tahu setelah ku dapati diriku dalam keadaan yang sangat egois.


Kembali pada malam hari …..

Setelah review memori itu ku ingat dengan mendetail, maka apalagi yang harus aku risaukan??? Apalagi yang membuatku gundah??? Bukankah masih ada bahkan banyak orang di luar sana yang penderitaannya melebihi permasalahan-permasalahanku?? Bukankah materi yang dilimpahkan padaku, rumah yang aku tempati dengan  kasur empukku, makan dan minuman yang tersaji di meja makan, pakaian yang layak serta rezki-rezki lainnya adalah nikmat yang begitu luar biasa yang seharusnya ku syukuri dengan teramat sungguh??



Sekejap aku merasa begitu bersalah dan bersikap empati terhadap orang-orang yang ku temui siang tadi. Sehingga ku alihkan pikiranku dari menyibukkan pikiranku dengan rentetan permasalahan hidupku yang kekanakan untuk memikirkan bagaimana aku harus memperbaiki kehidupanku dengan mind set Al Qur’anul Karim dan Hadits Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam sebagai pedomanku dan agar kedua hal itu menancap dalam dihatiku. Sehingga aku bisa selalu bercermin dari kehidupan dunia untuk mengejar akhiratku.

“Demikianlah Allah mengunci mati hati orang-orang yang tidak (mau) memahami. 
Maka bersabarlah engkau (Muhammad), sesungguhnya janji Allah adalah benar dan sekali-kali jangan sampai orang-orang yang tidak meyakini (kebenaran ayat-ayat Allah) itu menggelisahkan engkau.”
(Surah Ar-Ruum (30) : 59-60)

Wallahu ‘Alam.. ^_^