Bismillah
Assalamu'alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh
Hem,,.... Saya adalah anak ke tiga dari lima bersaudara dari turunan Mandar (Ayah) dan Makassar (Ibu), tapi Ibu ku lebih ke pada keturunan Jawa, tepatnya Yogyakarta. Saya adalah salah seorang mahasiswi di salah satu Universitas Negeri di Makassar, Fakultas Ilmu Pendidikan, Prodi Pendidikan Guru Sekolah Dasar (PGSD). Sebagai salah satu pelajar yang tengah menuntut ilmu di perguruan tinggi. Sebagai anak yang memiliki tempat strategis dalam hubungan persaudaraan yakni di tengah, diantara 2 adik, adik laki-laki dan adik perempuan dan 2 kakak, kakak perempuan dan kakak laki-laki. Saya sangat merasa bersyukur karena dilahirkan di dalam keluargaku tercinta dan semua itu takkan bisa tergantikan meskipun dengan seluruh harta benda yang ada di dunia ini. Makanan favoritku adalah segala makanan yang halal dan baik yang dapat ku makan ketika aku lapar dan minuman kesukaanku adalah minuman halal dan baik yang dapat ku tenggak ketika aku dalam keadaan dahaga.
Islamic and Education
Selasa, 24 Juni 2014
Minggu, 24 Februari 2013
Selasa, 17 Januari 2012
The Journey
Bismillah
Sayup-sayup di
keheningan malam ku dengar suara jangkrik itu saling bersahutan, seolah
bernyanyi ingin menemani dan menghiburku untuk menghabiskan malam yang penuh
kalut dengan temaramnya karena dipenuhi oleh banyaknya hal yang terlintas
dipikiranku. Entah mengapa aku seperti sibuk dengan pikiran-pikiran itu, tapi
harus ku akui bahwa memang semua itu harus ku pikirkan meski tak jarang batin
ini bergulat dengan pikiranku sendiri dan terkadang aku menemui kebuntuan dalam
mencari solusi dari permasalahan yang ku pikirkan.
Malam semakin
larut, namun pikir ini pun semakin tak karuan, mengapa begitu banyak masalah
yang ku alami??? Mengapa hidupku ini tak hentinya disapa oleh kekecewaan dan
kemalangan??? Mengapa hidupku yang harusnya dipenuhi dengan gemerlapnya masa
muda yang ceria dan bahagia malah harus ku lalui dengan penuh kesesakan??? Ah,
apakah ini yang sering dikatakan orang-orang bahwa hidup itu kejam?? itulah
segelintir pertanyaan yang biasa terlintas olehku. Jiwa yang sedang kalut dalam
masalah.
Haaah (mengehelah nafas). Ku
baringkan badan ini sejenak diempuknya kasur tidurku. Lalu tiba-tiba, entah
mengapa memori ini seolah mengulang suatu masa dan tak ayal, akupun terhentak
dengan fenomena siang tadi yang ku saksikan langsung dengan sepasang mata indah
yang begitu sempurnanya diciptakan oleh-Nya sebagai bukti rahman-Nya untuk rupaku yang indah sebagai hamba-Nya.
Sekali lagi ku
terenyuh dalam benakku. Semakin ku ingat maka aku semakin merasa hina dan
begitu egois....
Ketika itu aku
hendak menuju tempat pelatihan (pelatihan pramuka) tepatnya pada hari minggu
siang. Setelah ku selesaikan sholat dhuhurku lalu segera ku bersiap dengan
seragam coklatku (pakaian pramuka). Ku salim tangan ibu dan seorang nenek dirumahku yang biasa ku
panggil dengan sebutan “Mbah”, yah karena beliau berasal dari Yogjakarta dan sudah
menjadi tradisi turun-temurun dalam keluargaku memanggilnya dengan sebutan itu.
Aku keluar
rumah hendak mencari kendaraan roda tiga (becak) menuju ke depan lapangan untuk
menunggu angkutan umum (pete-pete), namun tak ku dapati seorangpun pun yang si empunya
menampakkan keinginan untuk mengantarku dengan becaknya bahkan untuk menengokku.
Yah, ku akui
siang itu terik mataharinya begitu menyengat sampai ku rasakan peluh itu di
keningku. Alhasil, ku ikhlaskan kaki ini untuk melangkah saja menyusuri jalan
menuju lapangan tersebut. Di setiap langkah, ku perhatikan sisi dari setiap
jalan yang ku lalui, ternyata mengasyikkan juga, pikirku. Ku lewati sebuah
rumah pejabat yang kala itu sedang mengadakan pesta pernikahan, entah siapa
tepatnya tapi ku tahu itu dari para tamu yang membawa undangan serta bentuk
rumahnya yang dihias dengan megah layaknya adat pernikahan di kota ini.
Pantas saja,
disamping matahari yang begitu terik ini tidak ada seorangpun dari para
pengayuh kendaraan roda tiga itu yang mau mengantarku, karena jalan menuju
tempatku mengambil angkot tertutup dan ditutup oleh para brimob dan para
penegak hukum yang ku ketahui dan ku kenali dari pakaian yang mereka kenakan.
Ah, sedikit
hati ini menggerutu kesal, mengapa disaat mereka sedang merayakan hari yang
begitu membahagiakan buat mereka namun di sisi lain mereka juga menyusahkan
orang lain yang tidak turut andil dalam bagian undangan itu. Tapi ku pikir itu
biasa terjadi di negeri ini utamanya di kota besar seperti yang ku tinggali
sekarang ini yaitu Makassar.
Kemudian ku
lanjutkan perjalananku menyebrangi perempatan jalan, dan begitu sampainya aku di
seberang jalan, aku memandangi begitu banyak rumah mewah yang begitu besar dan
berderet saling bersampingan. Untuk beberapa langkahku ke depan, begitu indah
dan menyegarkan pandangan mata.
Namun begitu
ironi ketika aku melewati sebuah rumah yang terbesar di daerah itu namun pas
disamping rumahnya, temboknya yang begitu besar dan kokoh dijadikan sebagai
dinding sebuah rumah rakitan yang
terbuat dari sebuah terpal berwarna biru dan dos bekas yang jika ku katakan
sangat tidak layak huni bahkan untuk kandang hewan sekalipun. Benar-benar pemandangan yang sangat
menyedihkan. Padahal, dalam membangun rumah janganlah terlalu megah sehingga
jadi bermegah-megahan. Ini sungguh tidak disukai Allah dan merupakan satu sifat dari
orang-orang yang buruk di akhir zaman.
“Bermegah-megahan telah melalaikan kamu” [At
Takaatsur:1]
Dan ketika
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam ditanya tentang tanda-tanda hari kiamat,
Nabi menjawab: “Apabila para penggembala
domba saling bermegah-megahan dengan gedung” [HR Muslim]
Kemudian dalam
hadits yang lain Rasulullah bersabda bahwaa:
“Belum akan datang kiamat sehingga manusia
berlomba-lomba dengan bangunan-bangunan yang megah” (HR. Bukhari)
Membangun
rumah yang terlampau tinggi sehingga akhirnya tetangga tidak mendapat sinar
matahari atau angin.
Ketika ditanya
tanda-tanda hari kiamat Nabi menjawab:
"Seorang
budak wanita melahirkan nyonya besarnya. Orang-orang tanpa sandal, setengah
telanjang, melarat dan penggembala unta masing-masing berlomba membangun
gedung-gedung bertingkat.” [HR Muslim]
Sungguh
larangan keras telah diberikan dari Allah Ta’ala dan Rasul-Nya untuk kita
sebagai umat-Nya yang hidup karena rahmat-Nya. Dan tak lama setelah ku amati dua hal bertentangan itu, ku alihkan pandanganku ke arah lain dan ku dapati sosok
seorang pria yang tua renta dengan rambut putihnya dan kulitnya yang hitam terbakar
teriknya matahari ditambah lagi siang itu teriknya matahari benar seolah membakar
kulit. Begitu tersentak hati ini dan seolah bening air di pelupuk mata ini hendak
jatuh menetes menatap kakek itu mendorong sepedanya yang penuh dengan barang
rongsokan yang mungkin ia kumpulkan guna mendapatkan sesuap nasi.
Lantas hati
inipun bertanya pada jiwa ini. Mengapa? Mengapa ia yang begitu tua masih jua bekerja
sepayah itu??? Kemana sanak keluarga dan kerabatnya??? Beginikah potret
kehidupan kita yang hidup di kota metropolitan??? Subhanallah, tak ku bayangkan
jika aku berada diposisinya saat itu.
Sejenak aku
terdiam dipinggir jalan menatap kakek itu, dan terus ku tatap hingga iapun
berjalan dan akhirnya menghilang di depan mataku.
Perjalananku terus
ku lanjutkan hingga akupun tiba di kampus Orange dan ku jumpai teman-temanku. Kami bercakap-cakap dan cengkrama kali itu antara kami ku rasa tidak menggembirakan hatiku yang
sedang tersayat sembilu melihat ironisnya kehidupan di sekitarku yang justru
baru aku tahu setelah ku dapati diriku dalam keadaan yang sangat egois.
Kembali pada
malam hari …..
Setelah review
memori itu ku ingat dengan mendetail, maka apalagi yang harus aku risaukan??? Apalagi
yang membuatku gundah??? Bukankah masih ada bahkan banyak orang di luar sana
yang penderitaannya melebihi permasalahan-permasalahanku?? Bukankah materi yang
dilimpahkan padaku, rumah yang aku tempati dengan kasur empukku, makan dan minuman yang tersaji di meja makan, pakaian yang layak serta rezki-rezki lainnya adalah
nikmat yang begitu luar biasa yang seharusnya ku syukuri dengan teramat sungguh??
Sekejap aku
merasa begitu bersalah dan bersikap empati terhadap orang-orang yang ku temui siang
tadi. Sehingga ku alihkan pikiranku dari menyibukkan pikiranku dengan rentetan permasalahan hidupku yang kekanakan untuk memikirkan bagaimana aku harus
memperbaiki kehidupanku dengan mind set Al Qur’anul Karim dan Hadits Rasulullah
shallallahu ‘alaihi wasallam sebagai pedomanku dan agar kedua hal itu menancap
dalam dihatiku. Sehingga aku bisa selalu bercermin dari kehidupan dunia untuk
mengejar akhiratku.
“Demikianlah
Allah mengunci mati hati orang-orang yang tidak (mau) memahami.
Maka bersabarlah engkau (Muhammad), sesungguhnya janji Allah adalah benar dan sekali-kali jangan sampai orang-orang yang tidak meyakini (kebenaran ayat-ayat Allah) itu menggelisahkan engkau.” (Surah Ar-Ruum (30) : 59-60)
Maka bersabarlah engkau (Muhammad), sesungguhnya janji Allah adalah benar dan sekali-kali jangan sampai orang-orang yang tidak meyakini (kebenaran ayat-ayat Allah) itu menggelisahkan engkau.” (Surah Ar-Ruum (30) : 59-60)
Wallahu ‘Alam.. ^_^
Langganan:
Postingan (Atom)